Senin, 14 Maret 2011

Worm Serang Komputer Nuklir Bushehr

Worm pengganggu itu hasil kerja sama AS dan Israel.
WINA - Fasilitas nuklir di Bushehr, Iran, terancam mengalami bencana mirip di Chernobyl, Rusia. Ini terkait gangguan worm -sejenis virus komputer- yang mengganggu sistem komputer fasilitas nuklir ini sejak 2010.
Kekhawatiran itu disampaikan dalam laporan intelijen pada Selasa (1/2) dari seorang anggota dinas intelijen asing dan utusan Rusia untuk Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Dmitry Rogozin. Namun, laporan itu dinilai terlalu dini untuk disimpulkan kebenarannya. Laporan itu tampaknya hanya bersifat pribadi dari ilmuwan Rusia maupun Iran yang bekerja di Bu-shehr.
"Dengan terganggunya sistem komputer oleh worm, reaktor akan mampu membuat sebuah bom nuklir yang kecil. Kerusakan kecil akan membuat reaktor hancur. Tapi, kerusakan skala besar juga bisa terjadi seperti yang di Chernobyl," kata laporan itu.
Worm yang disebut sebagai Stuxnet itu diyakini mampu menggerakkan sejumlah mesin pemutar di reaktor itu bekerja tanpa kendali dan mengganggu proyek pengayaan uranium yang dilakukan. Merebaknya kabar itu ditengarai tidak terlepas dari ulah Israel atau AS, dua negarayang paling bersemangat menentang program nuklir Iran karena dikhawatirkan dapat digunakan untuk membuat senjata nuklir. The New York Times edisi 15 Januari 2011 menyebutkan, kedua negara ini bekerja sama menguji coba worm untuk menyerang fasilitas nuklir Iran.
Iran mengakui telah terjadi gangguan pada sitem komputer di reaktor tersebut. Namun, gangguan itu bukan akibat dari worm
Stuxnet yang membuat tertundanya proyek pembangunan reaktor oleh Rusia.
Sejauh ini Iran tidak banyak memberikan penjelasan soal program nuklirnya. Komunitas internasional hanya mengetahui adanya gangguan atas reaktor itu tahun lalu oleh worm yang dianggap misterius.
Utusan Iran untuk Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) Ali Asghar Soltanieh, tidakmemberikan komentar terkait Stuxnet di Bushehr tersebut. Namun, Rogozin yang mengutip pernyataan sejumlah teknisi di Bushehr, menyebutkan, sistem yang ada berjalan normal ketika dipantau melalui layar komputer, namun dalam kenyataan mesin itu bekerja tanpa kendali.
"Worm itu sangat berbahaya dan dapat memberikan dampak seperti Chernobyl," kata Rogozin.
Sejumlah pakar sampai kinimasih memiliki perbedaan pendapat soal pembuktian adanya worm Stuxnet tersebut. Olli Hei-nonen, mantan kepala penyelidik program nuklir di IAEA yakin worm itu dapat merusak sistem di Bushehr atau di tempat lain hingga terjadinya malapetaka besar.
Namun, Ralph Langner, pengamat keamanan dunia maya yang meneliti efek Stuxnet menilai worm yang masuk ke dalam komputer seperti Stuxnet secara teknis tidak dapat mengacaukan sistem di Bushehr. "Ledakan termonuk-lir tidak mungkin terjadi hanya karena Stuxnet," katanya.
Menurut Langner, Iran membutuhkan waktu setahun untuk memperbaiki sistem Bushehr yang terganggu. Reaktor Bushehr menjelang pengoperasiannya menghadapi sejumlah kendala serius.
Seharusnya reaktor itu beroperasi 1999. Namun, tertundakarena menghadapi masalah pada konstruksi dan pasokan perlengkapan. Rusia sendiri sebagai pemasok reaktor nuklir Iran meminta negara itu agar lebih berkompromi dalam membahas masalah program nuklirnya dengan komunitas internasional.
Sesuai kesepakatan 2005, Rusia akan memasok kebutuhan bahan bakar bagi fasilitas nuklir Iran dan meminta kembali bahan bakar yang telah digunakan. Tujuannya, agar tidak diubah menjadi senjata nuklir. Iran juga menyetujui keberadaan IAEA mengawasi kegiatan reaktor Bushehr dan pengiriman bahan bakar reaktor tersebut.
IAEA sendiri menolak berkomentar soal kerusakan di Bu-shehr. Namun, menurut sejumlah pejabat di lembaga itu, tidak puas dengan sisitem operasi dan keamanan di reaktor tersebut.

Selasa, 08 Maret 2011

Mari Selamatkan Bumi Kita Coy

Semua sudah maklum bahwa bumi yang sama-sama kita diami ini sudah semakin tua, sebagaimana manusia pada umumnya, pada usia lanjut tentunya akan semakin menurun kondisinya. Alangkah bijaksananya kita-kita yang merasa memiliki bumi ikut andil untuk menjaga syukur-syukur sampai dengan menyelamatkan bumi yang sudah mulai sakit-sakitan.

Terus apa yang bisa kita lakukan? sebenarnya banyak hal yang bisa kita kerjakan, salah satu contoh “Batagor” sudah sampai jilid dua peduli pada lingkungan, moga-moga dalam waktu yang gak terlalu lama jilid tiga segera terwujud.
Diperempatan atau simpangan jalan yang dilengkapi lampu pengatur lalu lintas, lampu “bangjo” kata saudara-saudara kita dari Jawa, maksudnya Abang (=merah) dan Ijo (=hijau), kenapa kuningnya gak disebut ya? Dibeberapa tempat sudah dilengkapi dengan penunjuk waktu, sehingga para pengguna jalan bisa memperkirakan berapa detik akan kena merah atau berapa detik akan jalan karena lampu hijau. Bila saja pada saat berhenti (lampu merah) semua kendaraan bermotor di persimpangan mematikan mesinnya dan dinyalakan lagi pada angka 3-5 detik menjelang lampu hijau, berapa persen pencemaran udara karena knalpot kendaraan bermotor yang bisa dikurangi, hitung sendiri deh.
Di era teknologi yang makin janggih ini, banyak sekali inovasi-inovasi menuju ke hal yang positif, praktis. Kita coba ambil contoh, kebanyakan kita tidak lagi menggunakan sapu tangan tetapi mengganti dengan “tissue” demi efisiensi dan kepraktisan. Kalau dulu, jamannya sapu tangan, setelah dipakai dan kotor lalu dicuci untuk digunakan kembali. Pengguna tissue, sekali pakai lalu buang, dan sering-seringnya dibuang sembarangan. Bila pengguna tissue satu hari menggunakan satu pak yang isinya lima lembar, berapa banyak pengguna tissue di kota Bandung? tinggal dikalikan, berapa banyak yang nyampah dari tissue saja.
Kasus lain adalah penggunaan kantong plastik (keresek) sebagai pengganti kantong kertas atau daun, alhamdulillah saat ini beberapa toko sudah mengurangi bahkan meninggalkan penggunaan plastik diganti dengan bahan yang lebih ramah lingkungan.
Mari kita peduli pada lingkungan, mulai dari yang kecil, mulai pada diri sendiri dan mulai sekarang.